December 20, 2009

Sinisme Infotainment VS Luna Maya

Isu Manohara Odelia Pinot mengalahkan "pamor" berita politik? Bahkan, yang tergolong agenda politik nasional? Nyatanya, iya. Dan tanpa dianalisis dengan pisau analisa yang tajam pun, jawabannya akan selalu iya. Hukum pasar yang merupakan cerminan selera masyarakat memang selalu berpihak kepada bidang hiburan dibandingkan bidang lain. Terlebih lagi layar kaca? Bukankah berbagai riset memperlihatkan jumlah penonton tertinggi adalah kaum hawa. Dan mohon maaf - ini tidak ada kaitannya dengan sinisme gender - bukankah kaum perempuan lebih berselera terhadap sajian-sajian yang ringan dan menghibur? Jadi kenapa juga harus heran? Dan, bagaimana dampaknya jika durasi program infotainment mulai mendekati kapasitasnya yang diberikan program berita?

Tanpa disurvei dan dihitung secara quick count, saya akan memastikan program infotainment akan makin bersinar. "Makin berbeling-beling," kata presenter program infotainment Insert di TransTV, Cut Tari. Ibarat sebuah pasar swalayan, kabar seputar selebriti ditempatkan di rak mana pun akan selalu dicari orang. Terlebih lagi bila "produk" itu disediakan rak yang lebih strategis. Maka, hiburan akan semakin berkibar dan memukul bidang-bidang masalah lain. Apalagi politik yang bikin kepala pusing dan rambut rontok. Pilpres? Hare gene ngomongin pilpres?!

Maka sangat wajar bila demam Manohara mampu mengungguli popularitas SBY atau capres-capres lain. Jangan heran bila drama Manohara bisa mengalahkan kesakralan pilpres. Selain diunggulkan secara bidang masalah, hal itu ditunjang jatah durasi yang makin membengkak. Setiap stasiun televisi paling tidak menyediakan slot selama 1,5 jam per hari untuk program infotainment. Sedangkan program berita memiliki durasi rata-rata 2,5 jam per hari. Bisa dibayangkan bila kasus Manohara menguasai durasi di setiap program infotainment di setiap stasiun televisi? Betapa ia mendapat jatah durasi teramat besar, plus cuma-cuma alias gratis. Sedangkan para peserta pilpres tampil hanya beberapa menit saja di setiap program berita.

Ketika tengah "berjuang" untuk memakmurkan keluarga pada 1996-an, saya juga sempat menjadi penulis lepas di sebuah rumah produksi yang membuat sebuah program infotainment. Saat itu, program gosip seputar selebriti masih dua dan hanya ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi. Jadi masih belum seramai sekarang dan saat itu, sang "saudara tiri" memang masih bayi.

Saya tidak akan bercerita soal liku-liku keterlibatan dalam rumah produksi itu. Namun, saya hanya bertutur soal pelajaran berharga saat diminta mengemas setiap item dalam program itu. "Berita infotainment itu isinya gambar-gambar sampah. Jadi, kita bermain dengan narasi. Usahakan setiap sampah ini jadi berita," kata Redaktur Pelaksana di rumah produksi itu.

Maksudnya gambar-gambar sampah adalah gambar-gambar yang tidak terlalu penting, tidak mengikuti kaidah grammar of the shots, dan "astrada" alias asal terang gambar ada. Artinya, peristiwa dalam gambar itu pun bukanlah peristiwa hebat dan memenuhi syarat-syarat nilai berita. Dan agar sampah itu menjadi berita, maka gambar-gambar sampah itu harus ditempeli data terbaru dari orang yang terlihat di gambar. Prinsif kesesuaian antara narasi dan gambar memang tidak berlaku. Yang penting, penulis memiliki data untuk diceritakan. Entah data pribadi, cerita katanya-katanya, dugaan-dugaan, dan berbagai macam jurus "pelintiran". Pokoknya, cerita nomor satu dan gambar jadi pelengkap syarat sebagai produk televisi. Sorry, saya tidak menyebut kumpulan data itu sebagai fakta. Karena, fakta tidak pernah berurusan dengan isu, rumor, gosip, dugaan, dan segala pelintiran.

Untuk menutupi kelemahan kontinuitas atau kesinambungan sequence, maka video editor memaksimal segala macam efek pada alat penyuntingan gambar. Selain itu, cara membacakan narasi atau voice over yang "khas" - bermain-main dengan intonasi dan aksen pada kata-kata tertentu - dan ilustrasi musik juga menjadi jurus andalan. Ingat Fenny Rose saat mempresentasikan dan membacakan narasi program infotainment Silet. Belakangan, gaya centil dan sedikit nyinyir juga diperlihatkan para presenter program para selebriti itu.

So, sejak masa perkenalan saya dengan jagat infotainment pada 1996 hingga sekarang, ternyata sang "saudara tiri" telah berkembang dengan pesatnya. Program infotainment dan rumah produksinya bukan lagi dua. Tapi, sudah menjadi belasan. Bahkan, sejumlah stasiun televisi memiliki pasukan khusus untuk memproduksi program tersebut secara in-house. Atau, sedikitnya menjalin kerjasama dengan rumah produksi. Sehingga, posisinya sudah merupakan saudara tiri yang sangat disayang oleh sang "raksasa".

Meskipun demikian, secara content, mohon maaf tidak berubah. Dari segi getting gambar memang makin luar biasa. Para reporter dan kamerawan semakin ulet, nekat, dan nyaris seperti Rajawali. Tapi dari segi pengemasan data dengan narasi sebagai menu utama, sekadar menjejalkan data dan kecurigaan-kecurigaan yang cenderung fitnah ke atas gambar. Sehingga tidak jelas lagi, mana data dan mana prasangka? Maaf, ya... (syaiful HALIM, GADO-GADO Sang Jurnalis: Rundown WARTAWAn ECEK-ECEK, Gramata Publishing, 2009, slug 20)

December 12, 2009

Bedah "Gado-Gado Sang Jurnalis"

Krisis keuangan global dan pembelakuan Undang-Undang Penyiaran menyengat industri televisi di Tanah Air. Bagaimana dengan masa depan lembaga pers di lingkungan stasiun televisi, akan menjadi suram atau sebaliknya?

Pertanyaan serius dan ironi itu muncul seiring dengan rumor tawaran pensiun dini (baca: PHK terselubung) dan gonjang-ganjing yang mewarnai perjalanan lembaga pers di stasiun televisi beberapa tahun ini. Beberapa jurnalis televisi (atau mantan) menuliskannya dalam blog atau menerbitkannya melalui jejaring sosial facebook. Artinya, diam-diam memang ancaman "madesu" memang tengah mengintai para jurnalis televisi.

Entah kesengajaan atau tidak, ternyata isu itu juga muncul dalam buku GADO-GADO sang jurnalis; rundown WARTAWAN ECEK-ECEK yang ditulis jurnalis SCTV, syaiful HALIM. Bahkan, lengkap dengan gambaran "politik ecek-ecek" yang terjadi di lembaga pers di sejumlah stasiun televisi, yang diduga untuk mengkebiri ketajaman dan kemapanan lembaga pers tersebut. Dan untuk mempertegas atmosfir keprihatinan dan kenyataan di dalamnya, sang Wartawan Ecek-Ecek akan berbicara langsung pada:

Rabu, 16 Desember 2006
Pukul 13.00-15.00 WIB
Bertempat di Auditorium Kampus Universitas Sahid Jakarta, Jalan Profesor Dr. Soepomo, Jakarta Selatan
Dengan topik "Menelisik Prospek Jurnalis Televisi di Tanah Air"

"Saya hanya bisa mengatakan, jutaan anak-anak bangsa dari berbagai kalangan masih menjadikan stasiun televisi sebagai salah satu impian. Ribuan mahasiswa dari fakultas-fakultas tertentu masih membidik dunia jurnalime televisi sebagai salah cita-cita," tegas sang Wartawan Ecek-Ecek, syaiful HALIM, dalam blognya.

Benarkan masa depan para jurnalis televisi akan suram pada masa-masa mendatang? Adakah buku GADO-GADO sang jurnalis: rundown WARTAWAN ECEK-ECEK membuktikan kekhawatiran itu?

Untuk mendapatkan jawaban paling akurat, ada baiknya menbaca buku itu terlebih dahulu dan mengikuti penuturan penulisannya pada workshop singkat ini.

JANGAN IKUTI ACARA INI, BILA ANDA INGIN DISEBUT ECEK-ECEK!

December 9, 2009

Pembunuhan Itu, Setelah 34 Tahun

Lembaga Sensor Film Indonesia akhirnya benar-benar "menggunting" Balibo Five. Selasa lalu, film yang digagas Foreign Correspondents Club itu dinyatakan tidak bisa diputar di Blitz Megaplex beberapa jam sebelum jam tayang. Tak ada kejelasan alasan dari LSF perihal pelarangan film itu. Dukungan dari Departemen Luar Negeri, Mabes TNI, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan orang-orang di Senayan terhadap keputusan LSF tadi akan tetapi menunjukkan memang ada kekhawatiran yang luar biasa terhadap pemutaran Balibo Five meski tidak jelas, kenapa mereka harus khawatir.

Kemarin, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) karena itu memprotes keputusan LSF. AJI menganggap pelarangan itu bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi dan tidak menghormati hak masyarakat untuk tahu. Alasan bahwa Balibo Five akan menciderai hubungan Australia dan Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Pak Menteri Pariwisata, Jero Wacik, oleh AJI dianggap berlebihan. AJI sebaliknya menduga, pelarangan Balibo Five bermuatan politis karena film itu mengungkap pembantaian lima jurnalis asing di Balibo, Timor Leste, 34 tahun silam.

Apa yang dimaksud sebagai peristiwa Balibo adalah tragedi yang terjadi pada 16 Oktober 1975 ketika situasi Timor Portugal (nama saat itu) berada dalam kondisi perang saudara. Balibo adalah nama kecamatan di Kabupaten Bobonaro.

Hari itu, dua faksi bersenjata Timor Portugal diberitakan terlibat dalam kontak senjata: UDT dan Apodeti melakukan serangan mortir besar-besaran untuk merebut kota kecamatan itu dari Fretilin. Diketahui di kemudian hati, lima wartawan asing yang meliput kejadian di Balibo itu ikut tewas. Mereka adalah Brian Peters dan Briton Malcolm Rennie yang bekerja untuk Channel Nine Australia; Greg Shackleton, Tony Stewart (Inggris), dan Gary Cunningham, juru kamera yang bekerja untuk Channel Seven. Mereka tewas dalam kondisi hangus terbakar di sebuah toko kelontong milik saudagar Cina.

Pemerintah Australia di bawah Perdana Menteri Gogh Whitlam waktu itu mengetahui, pasukan Indonesia memang tengah menyusup ke Timor Portugal. Mereka juga tahu dua wartawan Australia berada di Balibo tapi Canberra belum membuka cerita secara lengkap. Salah satu teka-teki dari cerita yang belum dibuka secara lengkap itu misalnya, kehadiran dua wartawan Australia bersama tiga rekannya di Balibo justru bertepatan dengan sikap Washington dan Canberra yang memberi lampu hijau kepada Jakarta untuk menginvasi Timor Portugal.

Terbunuhnya lima wartawan itulah yang belakangan membuat hubungan Indonesia-Australia panas-dingin. Pengadilan tinggi (koroner) negara bagian New South Wales dua tahun lalu misalnya, pernah menyimpulkan, dua wartawan Australia, dua wartawan Inggris dan satu juru kamera dari Selandia Baru itu telah dibunuh oleh pasukan Indonesia. Dikutip Sydney Morning Herald edisi 16 November 2007, Dorelle Pinch, deputi koroner pengadilan, menyebutkan, pembunuhan dilakukan agar rencana Jakarta menerjunkan pasukan di Timor Timur tidak diberitakan oleh kelima wartawan.

Jakarta menolak keras kesimpulan Pinch, tentu saja. Departemen Luar Negeri mengatakan kesimpulan tersebut sama sekali tidak mengubah sikap pemerintah Indonesia. Dikutip oleh BBC Kristiarto Legowo, Jubir Deplu mengatakan saat itu, pengadilan koroner negara bagian New South Wales mempunyai yurisdiksi yang sangat terbatas. Penolakan yang kurang lebih serupa, juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan dan Panglima TNI.

Sejumlah Laporan
Hingga 1990-an banyak laporan jurnalistik yang mencoba melakukan investigasi atas kematian lima rekan mereka. Salah satunya ditulis oleh Jill Jolliffe dalam buku Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five (2000). Buku itu antara lain mengungkapkan pelaku penembakan terhadap kelima wartawan adalah pasukan Kopassus (Kopasandha). Yunus Yosfiah yang disebut-sebut oleh buku itu, pernah mengaku memang bertugas di Balibo ketika lima wartawan itu sekarat tapi dia membantah telah membunuh mereka. Beberapa kesaksian menyebutkan kelima wartawan ditembak dengan telak dari jarak 10 meter.

Lalu ketika Timor Timur lepas dari Indonesia pada 1999, para saksi mata mulai banyak yang berbicara soal insiden Balibo. Mereka antara lain adalah Guilherme Gonzalves, Raja dari Apodeti, dan anaknya, Thomas; juga Paulino Gama. Mereka menceritakan keterlibatan pasukan Indonesia dalam peristiwa itu kepada Radio Nederland.

Dalam penyelidikan dan persidangan Glebe Coroner Court di Sydney 6 Februari 1997, seorang saksi kunci yang adalah orang Timor Timur menyatakan pasukan Indonesia telah menembak kelima wartawan tersebut. Dia juga mengaku melihat para pasukan lainnya menembaki rumah yang dihuni para wartawan selama dua hingga tiga menit. Saksi yang diberi kode “Glebe 1” itu mengaku melihat dua warga kulit putih dengan tangan mereka di atas kepala tapi tembakan terus dilakukan. Setelah dibunuh mayat kelima wartawan lalu dibakar di dalam rumah selama dua hari.

Setahun sebelumnya, sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh PBB menyimpulkan bahwa para wartawan tersebut secara sengaja dibunuh oleh pasukan Indonesia. Penyelidikan PBB atas sejumlah saksi itu dibuat dalam laporan setebal 2.500 halaman. PBB antara lain merekomendasikan agar "perlu diadakan penyelidikan lanjut atas fakta (kebenaran) yang sulit dari peristiwa tersebut". Namun hingga lebih 10 tahun, penyelidikan PBB dan persidangan di pengadilan Australia tak menghasilkan keputusan apa pun karena beberapa orang Indonesia yang disebut-sebut terlibat dalam kasus itu tak pernah bisa dihadirkan dalam persidangan.

Sebelum pasukan Indonesia menyerbu Timor Timur 15 Desember 1975 dengan sandi Operasi Seroja, Jakarta memang menggelar operasi khusus. Operasi pertama dengan sandi Operasi Komodo digelar sejak awal Januari 1975 dengan melibatkan satuan tugas dari unsur tentara di bawah komando Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Operasi itu lalu dilanjutkan dengan Operasi Flamboyan hingga masuknya pasukan Indonesia ke Timor Timur. Selain untuk memantau perkembangan yang terjadi, target dari operasi penyusupan adalah menjalin kontak dengan para warga Timor Portugal yang bermaksud berintegrasi dengan Indonesia.

Karena bersifat tertutup, dalam penugasan itu seluruh pasukan tidak mengenakan seragam tentara resmi. Sebagai gantinya mereka mengenakan pakaian sipil agar tidak menarik perhatian: celana jins, kaus oblong dan sebagainya. Beberapa komandan lapangan ditugaskan untuk menyamar sebagai mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata. Senjata dan amunisi dimasukkan ke dalam karung yang dibubuhi dengan tulisan alat pertanian.

Tugas awal mereka adalah melatih para simpatisan pemuda Timor Portugal yang menghendaki wilayahnya menjadi bagian dari Indonesia. Saat satu regu unit operasi dari pasukan Indonesia berada di Balibo, lima wartawan itu juga berada di kota kecamatan itu.

Itu mirip dengan operasi yang sama yang dilakukan oleh pasukan Green Baret Amerika, sebelum tentara Amerika terlibat dalam perang Korea, menyerbu Vietnam, dan belakangan menginvasi Irak dan Afghanistan. Pasukan khusus itu datang terlebih dulu, menyusup sebagai penduduk sipil, melatih penduduk setempat dan mengondisikan sasaran untuk kedatangan tentara yang lebih masif.

Lalu sebelum Pinch menyampaikan kesimpulan di pengadilan tinggi New South Wales, pemerintah Australia dan Indonesia sebetulnya telah sepakat menyebutkan kelima wartawan tewas secara tak sengaja dan menyatakan kasus itu telah selesai. Namun Pinch mengaku menemukan fakta yang bertentangan soal kasus tersebut. Menurut Pinch, ada bukti-bukti bahwa Yunus Yosfiah, Christoforus da Silva, L.B. Moerdani dan Dading Kalbuadi terlibat dalam kematian lima wartawan tersebut.

Perintah pembunuhan diberikan oleh Moerdani selaku komandan intelijen kepada Dading Kalbuadi atasan Yunus dan Christoforus. Setelah Timor Timur masuk menjadi wilayah Indonesia, Moerdani dan Dading mendirikan PT Denok Hernandes Indonesia yang memonopoli pembelian dan ekspor kopi dari Timor Timur. Mereka dibantu oleh dua bersaudara, Robby dan Hendro Sumampouw yang ikut membiayai operasi militer pasukan Indonesia ke Timor Timur saat itu.

Lalu siapa pembunuh kelima wartawan itu? Film Balibo Five yang akan diputar Kamis malam ini di Teater Utan Kayu, Jakarta mencoba mencari jawaban atas teka-teki yang tertutup selama 34 tahun meski mungkin tidak akan memuaskan semua pihak. Satu hal yang pasti, Jakarta dan Canberra, mestinya bisa belajar untuk lebih serius dan jujur mengungkap apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Itu termasuk tentang kesepakatan yang terjadi antara kedua negara sehingga tentara Indonesia bisa diterjunkan ke Timor Timur sejak Desember 1975, dua bulan sebelum kelima wartawan nahas itu dibunuh.[Rusdi Mathari]

"Balibo" , Tragedi Jurnalis

"BALIBO" , TRAGEDI JURNALIS

Tigapuluhsatu tahun setelah pembantaian lima wartawan asing di Balibo, Timor Leste, puluhan laporan investigatif, buku dan laporan polisi PBB dan komisi parlemen Australia telah menghimpun bahan untuk membongkar kasus tsb. Kini, giliran keluarga korban memburu para pelaku 'Balibo' melalui peradilan. Pekan silam, menyusul tuntutan kerabat salah satu wartawan yang tewas, Brian Peters, pengadilan di Sidney, Australia, mendengar keterangan saksi-saksi baru. Lagi-lagi muncul nama beken seperti "Mayor Andreas", yang tidak lain adalah mantan Menteri Penerangan Letjen pur. Yunus Yosfiah.

Suatu hari, pertengahan Oktober 1975, sebuah satuan RPKAD memasuki Balibo, di ujung barat Timor Leste, waktu itu Timor-Portugis. Portugal baru setahun menyiapkan dekolonisasi jajahan-jajahannya. Di Jakarta, Timor-Portugis menjadi "ancaman komunis di pekarangan Indonesia" yang harus "dipasifikasi" ke dalam negara kesatuan. Menlu Adam Malik bersedia mengakui hak kemerdekaan Timor-Portugis, tapi kalangan militer memilih operasi klandestin. Di Canberra, PM Gough Whitlam gagal melobi Lisbon agar Timor tetap di bawah Portugal dengan harapan meraih minyak bumi di Celah Timor, lantas berharap Jakarta dapat menyelesaikan gejolak Timor. Para jenderal di Jakarta menafsirkannya sebagai "lampu hijau" Australia meski dubesnya di Jakarta, Richard Woolcott, tahu benar apa yang sebenarnya terjadi
berkat hubungan baiknya dengan Mayjen. Benny Moerdani.

Di tengah konspirasi dan ketidakpastian itu, para arsitek "TimTim" - Ali Moertopo, Yoga Sugama dan Benny Moerdani - cuek saja. Dan Canberra mengutamakan hubungan baik dengan Soeharto. Akibatnya, tidak hanya rakyat Timor terjepit, tapi pers bebas juga.

Ketiga arsitek BAKIN dan Opsus itu melanjutkan Operasi Flamboyan dari Atambua, Timor Barat (NTT), untuk menyulut perang saudara di Timor-Portugis. Komandannya, Kol. RPKAD Dading Kalbuadi, mengaku bermimpi dapat menguasai Timor Portugis dengan metode bujuk dan gertak semacam ulah Inggris menguasai Transjordania. "Seperti (cara) Lawrence of Arabia itu, lho, mas," tutur Dading (Radio Nederland 1995) yang membawahi tiga satuan RPKAD, Tim Umi, Tim Tuti dan Tim Susi. "Mereka masuk Timor (Timur), menyamar sebagai turis, dengan nama-nama berbau Portugis dan membawa kamera dan peta," ungkap Jose Martins (1992), mantan pembantu Ali Moertopo.

Mendengar kehadiran lima wartawan televisi asing, Komandan Tim Susi, Mayor Andreas, bertopi turis, berrambut gondrong dan dibantu kelompok Apodeti yang pro-Jakarta, menuju Balibo. Beberapa jam sebelumnya, menurut sadapan intelejens Australia, Benny Moerdani berpesan kepada Dading Kalbuadi "We can't have any witness". Dading menjawab "Don't worry!" (Jill Jollife, Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five, 2001, h. 312)

Apa yang terjadi kemudian, kita tahu. Pada 16 Oktober 1975 kelima wartawan asing itu - Gary Cunningham, Gregory Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters and Malcolm Renie - mati konyol. Mereka bukan korban "di tengah baku tembak" (cross fire) antara tentara Indonesia dan gerilya Fretilin seperti diklaim Jakarta. Jakarta menyiarkan gambar-gambar mereka setelah jasad mereka diberi baju seragam Fretilin (untuk memberi pembenaran pada pembunuhan kepada wartawan tak bersenjata), kemudian dibakar di sebuah toko Cina.

Banyak laporan jurnalistik investigatif telah menunjukkan bahwa mereka ditembak dengan telak (cold blood). Empat mati ditembak, satu ditusuk. Mantan Konsul Australia James Dunn, mantan Presiden Fretilin Xavier do Amaral, pemimpin Apodeti Raja Guilherme Gonzalves, anaknya, Thomas, dan mantan Komandan Fretilin Paulino "Mouk Mouruk" Gama menceritakannya (Radio Nederland, media Australia, 1990-1995).

Tapi baru sejak Timor Leste merdeka, saksi mata mulai bicara. Jill Jollife dalam bukunya Cover Up tsb mengungkap secara rinci latar seputar peristiwa keji itu. Menurut J. Martins, di antara satuan RPKAD, ada "beberapa yang kejam, termasuk Mayor Andreas dan Sinaga". Jill Jolliffe memastikan, "Mayor Andreas" adalah Kapten RPKAD Yunus Yosfiah dan sumber lain menyebut satuan Susi menembak dari jarak 10 meter. Tahun 1999 Yunus membantah, dia mengaku tak pernah bertemu wartawan, tapi membenarkan, satuannya pada Oktober 1975 berada di Balibo selama 10 hari. Di kota sekecil Cimahi selama itu tidak mendengar insiden lima warga asing yang menyandang kamera?

Pekan silam, Pengadilan Glebe Coroner di Sidney tidak menambahkan detil baru yang penting. Sejumlah saksi anonim, Glebe Two, Glebe Four dan Glebe Five kembali menegaskan bahwa Yosfiah sendiri tidak pernah melepas tembakan. Sebagai komandan dia memberi perintah "Tembak saja, Tembak saja!" "Bohong, bohong!" bantah Yosfiah dari Jakarta pekan lalu. Seorang saksi mata baru mengatakan, tentara Indonesia mengejar kelima wartawan tsb. Rakyat memperingatkan mereka agar lari, tapi mereka menolak karena yakin wartawan tak akan dilukai. Mereka hanya berseru "Australia, Australia!". Seorang saksi memperingatkan anggota Tim Susi, wartawan tak boleh ditembak.

Kelima wartawan na'as itu "berdosa" karena ingin meliput operasi militer, sebuah hot item, agresi yang melanggar Piagam PBB - juga melanggar mukadimah konstitusi Indonesia sendiri. Mereka menjadi korban dari sebuah halaman pengantar (prelude) menuju perang besar nan kotor.

Kurang dari dua bulan kemudian, lengkaplah agresi tsb dengan lampu hijau Presiden AS Gerard Ford dan invasi besar 7 Des. 1975. Selebihnya kita tahu: TimTim jadi jajahan, ditelan tragedi kemanusiaan, kita menjadi penjajah, asas politik luar negeri Non Blok menjadi hipokrisi, dan solidaritas Asia-Afrika (Bandung 1955) pudar.

Pemerintahan PM Gough Whitlam pada Oktober 1975 tahu benar bahwa tentara Indonesia tengah menyusup. Mereka tahu ada operasi Flamboyan dan kelima wartawannya ada di Balibo, tapi Canberra hingga kini berkelit. Komisi Parlemen Sherman (1996) hanya meragukan klaim Jakarta tentang "baku tembak". Akhirnya, tim polisi PBB Civpol yang mengusut kasus Balibo kandas karena Jakarta menolak mengirim para saksi dan tersangkanya ke Dili.

Sisi Indonesia dari Operasi Flamboyan tetap gelap. Banyak nama beken selain Yunus Yosfiah, terlibat operasi, seperti Krisbiantoro, Bibit Waluyo (Cagub DKI) dan Soetiyoso (Gub. DKI). Pers Indonesia diam, ada yang menjadi bagian propaganda militer (worse than embedded) dan sebagian besar dipasung Orde Baru. Belakangan, ketika wartawan film media Jepang, Agus Muliawan, dan sejumlah wartawan lokal dan asing tewas di masa bumi hangus Tim-Tim Sept. 1999, pers Jakarta juga tak banyak bersuara. Di Indonesia, kebanyakan wartawan jadi korban di
masa damai. Baru ketika wartawan RCTI Ersa Siregar tewas semasa tugas di Aceh, Des. 2003, pers ramai, tapi hasil penyelidikan TNI yang dijanjikan Jen. Ryamirzard Ryacudu tak pernah terdengar.

Kasus Balibo 1975 adalah tragedi wartawan perang di tengah Perang Dingin. Yunus Yosfiah pernah mengaku "ABRI mungkin menakutkan, tapi saya seorang demokrat." (Kompas 27 Juni 1999). Tapi 'Balibo' juga kasus pembunuhan wartawan terbesar sejauh ini.

Bagi pers Indonesia pasca-SIUPP, apalagi di Hari Pers 9 Februari ini, 'Balibo' mustinya pedih, sebuah ironi, karena melibatkan seorang mantan Menpen di bawah Presiden Gus Dur yang pernah berjasa mencabut SIUPP. "Balibo" pantas menjadi simbol masa kelam pers dunia dan dunia pers di masa Orde Baru.

Komisi Kebenaran & Rekonsiliasi Timor Leste CAVR (2006) dalam laporannya kepada PBB menyarankan agar menyelidiki kembali sejumlah kejahatan HAM, di Timor Leste, termasuk "Balibo". Menarik pula, Komisi-bersama Indonesia dan Timor Leste untuk Kebenaran dan Persahabatan CTF hanya mencakup seputar bumi hangus 1999. CTF melanggengkan impunitas dengan menjanjikan amnesti bagi mereka yang mengaku terlibat pelanggaran HAM, tapi mengabaikan kasus kasus historis sebelumnya. Jadi, kedua negara masih harus menghadapi kasus Balibo - idem dito kasus pembantaian Kraras 1983 (Letnan Kopasandha Prabowo) dan yang lain.

Walhasil, bagi banyak pihak, kisah Timor masih panjang. Hantu Balibo dan sejenisnya masih akan terus membayang-bayangi mereka yang bertanggungjawab.[Aboeprijadi S]

December 8, 2009

Menyoal "Gado-Gado Sang Jurnalis"

Sesaat setelah buku Gado-Gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-Ecek memasuki rak toko buku, seorang sahabat menyodorkan dua kritik serius kepada saya. Yakni, soal pemilihan tokoh "saya" dan momen peluncurannya yang dianggap berbanding terbalik dengan kondisi sekarang.

"Kenapa juga harus sampean sendiri yang menjadi kendaraan cerita. Apa tidak khawatir buku itu bakal disebut otobiografi? Bahkan, sampean bisa dicap pemuja aliran narsis?!"

Astaghfirullah. Buru-buru saya membuka lembar demi lembar buku itu dan membacanya secara seksama. Seteliti, mungkin. Kali ini, saya harus memastikan kebenaran kesan itu. Dan jurus memilih posisi sebagai pembaca harus saya pilih. Karena, saya membutuhkan jawaban obyektif.

Kalau hal itu terbukti benar, maka sesungguhnya saya tengah dihadapkan pada dua persoalan besar. Pertama, saya telah melanggar komitmen spiritual untuk istiqomah berzuhud secara batin. Kedua, saya telah melanggar komitmen berkesenian untuk tidak melakukan -- maaf -- masturbasi!

"Setiap amal tergantung niatnya. Katanya guru saya, hahaha...," sahut saya mencoba menanggapi kritik serius itu seraya berpura-pura mengabaikan konflik batin di pikiran.

Namun, di balik kutipan yang sejatinya hadits Rasulallah SAW itu saya ingin bertutur bahwa alasan-alasan "pelanggaran" komitmen secara spiritual atau berkesenian itu. Ketika harus memilih kendaraan "saya", seperti juga telah dipaparkan dalam kata pengantar, hal itu lebih disebabkan untuk mendapatkan kemudahan. Karena memilih tokoh lain pastinya akan dihadapkan berbagai persoalan administrasi, royalti, waktu, dan sejuta alasan lain.

Selain itu, mendapatkan tokoh dari kalangan "bawah" -- dunia jurnalistik televisi -- dengan banyak cerita juga bukan perkara gampang. Karena, bisanya kalangan "bawah" sangat sedikit mendapatkan kesempatan untuk menabung pengalaman dan cerita.

Daripada niatan membagi pengatahuan dan pengalaman terhambat masalah karakter, maka diputuskanlah "saya". Untuk mengimbangi dominasi "saya", saya juga menyediakan ruang untuk teman-teman lain -- dari kalangan "bawah" -- yang selama ini tidak tersentuh tinta sejarah. Dan menorehkannya dalam bentuk cerita atau foto. Dengan porsi kecil itu saya berharap, pembaca juga mengenal "wartawan ecek-ecek" lain yang selama bertahun-tahun ini meramaikan jagat pertelevisian kita.

"Apa mereka memang layak masuk catatan sejarah itu?"

"Iya. Selama ini publik lebih mengenal kalangan 'atas' atau selebritas -- presenter atau anchor program berita -- yang sering tampil di layar kaca. Padahal di balik kecemerlangan mereka juga terdapat para praktisi lain yang angat bekerja keras. Buat saya, masyarakat juga perlu menjadikan orang-orang itu inspirasi. Orang kalangan 'bawah' pun berhak menjadi inspirasi," jelas saya meyakinkan.

Tentang kritik kedua?

Saya sangat tahu, arah kritik itu ditujukan kepada situasi gonjang-ganjing yang belakangan ini dialami sejumlah stasiun televisi nasional. Entah menyangkut keterlibatan pemilik modal atau jajaran pengelola stasiun televisi secara langsung dalam menata lembaga pers di dalamnya. Atau soal masa depan pertelevisian itu yang tengah diuji krisis keuangan global atau pelaksanaan Undang-Undang Penyiaran. Singkatnya, efisiensi yang berujung pada pemangkasan karyawan. Dan, tentu saja, masa depan lapangan pekerjaan di bidang penyiaran.

Kali ini, saya hanya bisa mengatakan, jutaan anak-anak bangsa dari berbagai kalangan masih menjadikan stasiun televisi sebagai salah satu impian. Ribuan mahasiswa dari fakultas-fakultas tertentu masih membidik dunia jurnalime televisi sebagai salah cita-cita. Dan mereka membutuhkan referensi. Baik menyangkut teori keilmuannya maupun praktik nyata di lapangan. Bahkan, peta "politik" di dalamnya.

Bahwa momen peluncuran buku dan kondisi usaha stasiun televisi yang berbanding terbalik bukanlah penghalang untuk terus berbicara tentang dunia jurnalisme. Khususnya, jurnalisme televisi. Sebagai pengetahuan atau ilmu, jurnalisme tidak akan pernah mati dan masih akan terus berkembang sejalan dengan perubahan-perubahan zaman. Karena itu, buku-buku yang berkaitan dengan masalah itu pun masih sangat dibutuhkan tanpa terusik situasi lapangan kerja.

Dan untuk ke dalam, wawasan tentang jurnalisme televisi itu juga membutuhkan otokritik. Ketika dunia tersebut menempati papan atas dan dalam kesombongan yang teramat sangat, para pengelolanya lupa dan lengah bahwa tren selalu berputar dan minat penonton juga ikut bergeser. Pada akhirnya, kebijakan pemilik modal dan pengelola stasiun telivisi pun harus berakrobat untuk mempertahankan laju usahanya.

"Bagian itulah yang saya pikir sangat ironi," kata teman saya lirih.

Ironi?

Buat saya dan teman-teman dari kalangan "bawah" yang termasuk dalam cerita buku, baik yang masih bertahan maupun resign, hal itu bukan sekadar ironi. Tapi, sangat ironi. Bahkan, sangat-sangat ironi![gado-gado SANG JURNALIS]