June 10, 2007

"ATJEH LON SAYANG": SPIRIT YANG TAK PERNAH PADAM



Reruntuhan bangunan di Kawasan Ulee Lheu menghampat tanpa batas. Sejauh mata memandang hanya terlihat puing-puing, bendera merah-putih yang kusam, pohon-pohon yang tumbang, dan suasana miris lainnya. Inilah Nanggroe Aceh Darussalan, tiga bulan setelah tragedi tsunami terjadi.

Musibah tsunami di Aceh pada 26 Desember 2005 bisa jadi bencana terbesar di dunia selama abad ini. Paling tidak, bila hal ini dilihat dari jumlah korbannya yang mencapai 200.000 jiwa dan kerusakan fisik di banyak tempat. Adakah cerita lain yang diungkap paska bencana itu?

Maka, “ATJEH LON SAYANG”lah jawabannya.

Melalui karakter Tengku Reza Indria (seniman muda), kita akan disuguhkan rekaman dan penafsiran tentang musibah demi musibah yang terus saja menggelontor ke tanah Serambi Mekah. Reza mencatat, musibah itu dimulai dari perang-perang suku sebelum Belanda memecah-belah kesatuan warga Aceh. Setelah itu, di zaman Orde Baru, Aceh menjadi Daerah Operasi Militer (DOM), yang juga menguras air mata warga Aceh. Lepas dari DOM, kita dapati Aceh sebuah daerah konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah, hingga provinsi itu ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer. Klimaks bencana kemanusiaan itu, tentu saja, musibah tsunami 26 Desember 2005!

“Meskipun warga Aceh terus ditimpa kemalangan dan musibah terus-menerus, tapi mereka terus diberi ketabahan dan kekuatan. Inilah hebatnya orang Aceh,” papar Tengku Reza Indria.

Lepas dari Reza, kita akan mendapati seorang anak yatim korban tsunami bernama Munawar. Umurnya 12 tahun. Orangtuanya tewas digulung ombak tsunami. Lalu, ia dtampung di sebuah dayah (pesantren) asuhan Ustadz Tengku Abdul Razak.

Dari mulut Munawar, kita akan mendengar kembali penuturan peristiwa mengenaskan itu. Untuk melengkapi cerita Munawar, beruntung para filmmaker telah mendapat footage “cantik” yang mendekati kronologis yang dituturkan oleh Munawar.

“Beruntung teman-teman di Banda masih menyimpan rekaman gambar, yang belum dijual ke stasiun televisi. Sehingga, saya bisa mengolahnya untuk dipadukan dengan cerita yang belum utuh,” tutur Ratna S. Halim, produser eksekutif “ATJEH LON SAYANG”.

Menurut filmmakernya, film tersebut memang dibuat tanpa perencanaan. Ketika dua kru komunitas itu mendpat tugas ke Aceh untuk sebuah stasiun televisi, mereka hanya mengumpulkan gambar-gambar reruntuhan akibat tsunami. Bahkan, setelah dua kaset terisi penuh kedasyatan dampak bencana itu, mereka tetap belum menentukan premis atau film statementnya.

Rancangan cerita baru muncul, setelah mereka berbicara panjang dengan Tengku Reza Indria saat menggelar ubat atee dengan kelompok “Bangkit Aceh”nya. Perlahan-lahan ada pesan yang ingin dihadirkan, yang daya tahan dan kekuatan warga Aceh dengan segala masalahnya. Premis itu makin kuat, setelah filmmaker bertemu dengan Munawar dan gurunya, ustadz Tengku Abdul Razak.

Selain penuturan ketiga orang karakter; Tengku Reza Indria, Munawar, dan Tengku Abdul Razak, film ini juga menyuguhkan aktivitas ketiganya dengan dunianya masing-masing. Tengku Reza Indria dengan kelompok “Bangkit Aceh”nya, Munawar dengan kesehari-hariannya di dayah, dan juga aktivitas Tengku Abdul Razak di dayah.

Kekuatan utama “ATJEH LON SAYANG”, tentu saja, pada footage-footage yang dulu marak di hadapan televisi. Ketika di putar di layar Jiffest 2005, ada penonton yang mengkritisi filmmaker bahwa tampilan footage itu membuat “ATJEH LON SAYANG” jadi mirip berita. Tapi, saya sangat yakin, itulah harta karun yang akan bercerita di kemudian hari. Atau, ia juga tetap sangat menarik bagi orang yang tidak pernah melihat suasana bencana. Karena kebetulan, pengkritisi bermukim di Jakarta dan akrab dengan cerita-cerita seputar tsunami.

Namun, lepas dari kelemahan pada elemen-elemen cerita dan celah di sana-sini, film dokumenter ini layak mendapat perhatian bukan karena ide dan aktualitasnya. Tapi, keberanian menampilkan struktur cerita yang tak lazim; tiga kisah dengan kehidupannya masing-masing. Selang-seling jadinya. Tapi, kekayaan etnografi Aceh dengan nasyid dayah yang khas sekali, menjadi perekat yang ampuh. Sehingga, kita tidak terasa tengah dipindah-pindah dari satu bangunan ke bangunan lain.

Keberanian filmmaker untuk lepas dari pakem berita yang harus bernarasi, juga membuat kita jadi leluasa menikmati gambar dan suara. Sehingga, pada akhirnya, toh kita diberi keleluasaan pula untuk menafsirkannya. Memang gado-gado yang disuguhkan. Tapi, kita tetap berhak memilih bagian mana yang layak disantap. Karena itu. Kita pun bisa leluasa pula untuk meraih mutiara-mutiara yang berada di balik cerita.[]

A MAtaHAti production -- a SYAIFUL H. YUSUF film – TENGKU REZA INDRIA, MUNAWAR, TENGKU ABDUL RAZAK – Produced & Directed by: SYAIFUL H. YUSUF – Camera-persons: YON HELFY & SYAIFUL H. YUSUF – Edited by: KOQO FERRIZQO – Production Designed by: SYAIFUL H. YUSUF – Production Manager: RATNA S. HALIM – Researcher: SUPARYONO

Duration: 24 minutes; Language: Indonesian & Acehnese [with English Subtitles]; Colour: Colour; Production Year: 2006.

No comments: